Penetapan Ahli Waris bagi Istri Poligami Tidak Tercatat melalui Isbat Nikah di Pengadilan Agama
Determination of Heirs for Wives of Unregistered Polygamous Marriages Through Marriage Ratification in the Religious Court
DOI:
https://doi.org/10.59896/gara.v20i3.796Keywords:
Compilation of Islamic Law, determination of heirs, marriage ratification, marriage registration, polygamous marriageAbstract
Unregistered polygamous marriage creates serious legal problems when the husband dies, because the wife cannot prove her marital relationship in an application for the determination of heirs before the Religious Court. This study aims to analyse the juridical position of a wife from an unregistered polygamous marriage and to examine the extent to which marriage ratification may serve as a basis for the determination of heirs. This is normative legal research using statutory and conceptual approaches, with primary, secondary, and tertiary legal materials gathered through library research and analysed qualitatively. The findings show that such a marriage is valid under Islamic law but has no legal force under Article 6 paragraph (2) and Article 56 paragraph (3) of the Compilation of Islamic Law, so the marital relationship cannot be proven as required by Article 7 paragraph (1). An application for the ratification of a polygamous unregistered marriage must be declared inadmissible under Supreme Court Circular Letter Number 3 of 2018, unless the marital impediment has ceased through divorce or the death of the previous wife. Protection of the wife's civil rights therefore depends on testament, grant, and obligatory bequest, as well as reform of marriage registration policy.
References
Ali, Z. (2006). Hukum perdata Islam di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika.
Anshary MK, H. M. (2010). Hukum perkawinan di Indonesia: Masalah-masalah krusial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Az-Zuhaili, W. (2011). Fiqih Islam wa adillatuhu (Jilid 9) (A. H. al-Kattani, Terj.). Jakarta: Gema Insani.
Basir, C. (2019). Penanganan perkara permohonan itsbat nikah poligami secara sirri dan hubungannya dengan permohonan asal usul anak di Pengadilan Agama [Makalah diskusi hukum]. Palembang: Pengadilan Tinggi Agama Palembang. https://badilag.mahkamahagung.go.id
Djubaidah, N. (2010). Pencatatan perkawinan dan perkawinan tidak dicatat menurut hukum tertulis di Indonesia dan hukum Islam. Jakarta: Sinar Grafika.
Hadjon, P. M. (1987). Perlindungan hukum bagi rakyat di Indonesia. Surabaya: Bina Ilmu.
Harahap, M. Y. (2005). Kedudukan kewenangan dan acara peradilan agama. Jakarta: Sinar Grafika.
Hazairin. (1982). Hukum kewarisan bilateral menurut Qur'an dan Hadith. Jakarta: Tintamas.
Herzien Inlandsch Reglement (HIR).
Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam.
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek).
Manan, A. (2006). Aneka masalah hukum perdata Islam di Indonesia. Jakarta: Kencana.
Mardani. (2014). Hukum kewarisan Islam di Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers.
Marzuki, P. M. (2017). Penelitian hukum (Edisi revisi). Jakarta: Kencana.
Mertokusumo, S. (2009). Hukum acara perdata Indonesia. Yogyakarta: Liberty.
Nuruddin, A., & Tarigan, A. A. (2004). Hukum perdata Islam di Indonesia: Studi kritis perkembangan hukum Islam dari fikih, UU No. 1/1974 sampai KHI. Jakarta: Kencana.
Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2015 tentang Pelayanan Terpadu Sidang Keliling Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama/Mahkamah Syar'iyah dalam Rangka Penerbitan Akta Perkawinan, Buku Nikah, dan Akta Kelahiran.
Peraturan Menteri Agama Nomor 20 Tahun 2019 tentang Pencatatan Pernikahan.
Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Putusan Mahkamah Agung Nomor 16 K/AG/2010.
Putusan Mahkamah Agung Nomor 368 K/AG/1995.
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 12/PUU-V/2007.
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010.
Rahardjo, S. (2014). Ilmu hukum. Bandung: Citra Aditya Bakti.
Rasyid, R. A. (2006). Hukum acara peradilan agama. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Rofiq, A. (2015). Hukum perdata Islam di Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers.
Soekanto, S., & Mamudji, S. (2015). Penelitian hukum normatif: Suatu tinjauan singkat. Jakarta: Rajawali Pers.
Summa, M. A. (2005). Hukum keluarga Islam di dunia Islam. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2018 tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2018 sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas bagi Pengadilan.
Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 7 Tahun 2012 tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2012 sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas bagi Pengadilan.
Syarifah, M. (2018). Implikasi yuridis poligami bawah tangan perspektif UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Jurnal Yustitia, 19(1), 24-33.
Syarifuddin, A. (2004). Hukum perkawinan Islam di Indonesia: Antara fiqh munakahat dan undang-undang perkawinan. Jakarta: Kencana.
Syarifuddin, A. (2008). Hukum kewarisan Islam. Jakarta: Kencana.
Thalib, S. (2016). Hukum kewarisan Islam di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013.
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 R. Fahmi Natigor Daulay, Ahwan Ahwan

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

















